Jumat, 26 Oktober 2012

LEBIH DARI CINTA 4



LEBIH DARI CINTA 4

Karya : Adna Tajriyaani

KEJADIAN YANG SANGAT TAK KU INGINKAN
Dian,
Setelah kejadian yang buruk terjadi padaku, dan aku kini sadar, banyak orang yang menyayangi ku, lebih dari cinta afid untukku, diantaranya ke5 sahabatku, dan kedua orang tuaku, mama.. papa..
Sudahlah sebaiknya aku jangan terlalu larut dalam kesedihan, so.. Dian, kau kuat
, jangan lemah kayak gini dong, haha ku liat ekspresi ibu yang terlihat sedikit kecewa karena aku merubah penampilan ku seperti dulu, aku pun mencoba menjelas kan kepada ibu, perihal perkataan bian “be your self dian” dan ibu pun tersenyum, menyubit pipi ku, layaknya anak umur 5 tahun
Aku merasa ada yang berbeda dari Bian, terlihat dari tatapan matanya saat berbicara denganku, dan ku pikir bahwa bian menyukai ku.. tapi pikiran ku berbeda dengan kenyataan yang sebenernya, Opik lah yang sebenarnya menyukai ku, dan tak ku sadari, aku pun mulai menyukai Opik, dan kami pun menjalin hubungan kami.. dan berharap tidak ada kejadian buruk menimpa ku lagi, waktu itu pun aku melihat Bian yang melihat ku dengan tatapan sedih dan kecewa, entah mengapa
Tapi ternyata, yaa aku masih menyimpan rasa kepada afid, dan berharap dia kembali lagi dalam hidupku tapi ternyata tidak, ketika Opik akan memberitau sesuatu kepadaku tentang afid, ku temui dia dalam keadaan wajah bersimbah darah akibat mimisan, ya aku pun membawa nya ke rumah sakit, dokter berbicara kepadaku tentang keadaan Opik, dan peristiwa buruk menimpa opik aku pun sontak kaget dan menangis
Tak tega rasa nya jika aku memberi tau hal ini pada Opik, terpaksa aku pun merahasiakan hal yang satu ini, So.. aku bicara pada Bian, tetapi belakangan ini aku tak melihat bian, ku datangi dia ke rumah nya tetapi rumah nya selalu tertutup, dan selalu terlihat tidak ada orang, aku pun menemui bian di suatu taman saat bian tengah melamun sendirian, aku menceritakan semua kepada bian, setelah aku menceritakan semua perkataan dokter perihal opik, terlihat mata bian yang mulai berkaca kaca, ya kami memutuskan untuk memberitahu Dion, Eka, dan Fauzul, sudah ku duga mereka akan sedih mendengar nya
“ya semua nya sudah takdir illahi” kata fauzul
Kami pun hanya bisa terdiam dan, merenung..
Opik pun datang menemui kami dalam keadaan pucat, Opik duduk di sampingku, Fauzul mengusulkan untuk mentraktir kami di kantin favorit kami
Terlihat wajah opik yang begitu senang, terkecuali aku, yang hanya bisa berkaca kaca melihat nya, saat kami tengah asyik makan semangkuk baso, opik pun terlihat pucat, dan sesekali memegang kepalanya, ya sudah ku duga, opik pun pingsan, segera kami membawa nya ke ruang UKS, disana ada Hafran, seorang petugas PMR di sekolah kami, Hafran cukup telaten merawat siswa yang sakit

“Di, Opik sakit apa?” ucap Hafran
“Gak ran! Opik Gak sakit! Dia sehat!” jawabku dengan meneteskan air mata
“tapi muka nya pucet banget, gak biasanya Opik kayak gini Di”
“Tapi ran, Opik tuh gak apa apa, Opik Cuma kecapean aja main basket”
Tiba tiba terdengar suara gitar yang cukup keras dari lapangan sekolah, ternyata dia, Yusra..
ya Yusra Dafian Patra sang gitaris band sekolah, kece, baik pula, aku menghampiri nya dan berteriak kepadanya
“Woy! Main Gitar nya dikecilin dong! Ada yang sakit! Gak Usah Pamer main gitar deh!”
Yusra hanya tersenyum sembari mengangkat sebelah alis nya dan menghentikan permainan gitarnya, dan segera pergi, aku pun segera kembali ke ruang UKS, ku dapati Rizal yg sedang menjenguk Opik, ya Rizal ardian pratama, pe-basket andalan sekolah, salah satu teman nya Opik, dan Hafran yang sedang bertugas di ruang UKS
“Di, udahlah kamu tinggalin aja Opik sekarang, dia udh sekarat kayak gini, masih mau kamu sama dia? Bego kamu di” kata rizal
“eh Zal! Gausah belagu ya! Aku ngeliat opik bukan Cuma fisik, dia peduli sama aku zal”
“terserah” ucap rizal sambil meninggal kan ruang UKS
Opik pun siuman dari pingsan nya
“aku kenapa sih di?” tanya opik dengan lemas
“kamu tadi pingsan pik, maka nya jangan main basket lama lama, nanti kecapean”
Beruntung nya opik tidak curiga dengan keadaan nya yang semakin parah, Yusra menghampiri ku, sesaat Opik pulang duluan
“eh Di, duet yu, aku denger suara kamu kemaren di perpus, bagus”
“ah gamau!”
“ayolah di, sekali aja”
“kenapa gak minta si marsya aja tuh yg duet sama kamu!”
“si Marsya lg sama afid tuh di kantin”
“OH deh!”
“yaudah mau ya?”
“yaudah”
Aku dan yusra pun menyanyikan lagu kesukaan Aku dan Afid, yaaa itung itung buat nenangin diri karena masalah nya Opik, saat pulang pun, Yusra mengantar kan aku pulang, ku lihat tatapan Yusra yang begitu berbeda, terlihat matanya yang begitu bersinar menatapku, senyum nya yang manis begitu menusuk, akankah? Terjadi lagi?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar