Karya :
Adna Tajriyaani
BIAN
FAHREZY
Satu kata yang ngegambarin DIAN MIRAJIAN JONAN “sulit ditebak” ya
satu satunya teman wanita kami di THE SHADOWS, jujur dia gadis yang kuat,
polos, tengil pula, dia gadis yang cukup cerdas..
Jonan, panggilan ‘sayang’ kami untuk seorang dian, dia cantik
sebagai perempuan, tapi dia juga cukup gagah untuk kami panggi Jonan, gaya nya
yang tengil, membuat kami ber5 menganggapnya seperti adik kami sendiri, kami
sudah memberikan cinta lain untuk dian..
Suatu ketika Dian mengahadapi masalah yang begitu besar, sampai
sampai, The shadows ada tanpa dian, disebabkan oleh seorang laki laki bernama
afid,
yang sudah aku anggap dia jahat, laki laki yang tentunya terlalu lemah dimata Dian, ya ku pikir, dian lebih kuat dan gagah dibanding afid, tapi dengan kelemahan afid, membuat dian tak berdaya, dan terjebak rasa kepada afid
yang sudah aku anggap dia jahat, laki laki yang tentunya terlalu lemah dimata Dian, ya ku pikir, dian lebih kuat dan gagah dibanding afid, tapi dengan kelemahan afid, membuat dian tak berdaya, dan terjebak rasa kepada afid
Taufik arsyil izhar,ya Opik Dia adalah seorang sahabat, lebih dari
sahabat untukku, rasa peduli ku terhadap dian, tentu tak kalah besar dibanding
rasa peduli opik terhadap gadis gagah itu.. pribadi nya yang sukar di taklukan,
badan nya yang gagah perkasa, tampang yang ‘maco’ dan tentu berkepribadian
lebih dewasa dibanding kami ber5, dia sudah kami anggap kakak, di The Shadows
Dioni Anugerah Rahman, Doni.. kalau dilihat lihat, dia adalah
orang yang mungkin lebih sering pro terhadap Opik ini, di kelompok kami, Doni
lah yang terlihat mirip dengan dian, doni sahabat yang asyik, dan gaya nya yang
cool, membuat dia digemari banyak orang
Ekanino Alphabet, Cowok kutu buku ini, lebih pro terhadap dian,
boleh kutu buku, tapi style, tetep cool..
Andi Fauzul putera, fauzul.. sepupu dari Opik ini, paling jago
soal agama diantara kami, dan yang jelas paling doyan nraktir, ada fauzul, ada
jajan sampai itu lah prinsip kami
DIAN MIRAJIAN JONAN, ya Pintar, cerdik, Polos, Tengil, tanpa ku
sadar, aku yang paling peduli terhadap dian, hampir setiap dian punya masalah,
aku yang selalu jadi teman curhatnya, aku masih mengingat beberapa curhatan
nya, yang kalau ku ingat ingat selalu membuatku tersenyum
Hari itu, bel pulang sekolah dian memanggilku
“Bian!”
“eh kamu Jon, kamu kenapa jon? Kok murung gitu?”
“Bi.. aku mau ngomong boleh kan? Kamu mau kan ngedengerin aku bi?”
“Gak! Hehehe bercanda deng, oke apa sih yang nggak buat kamu jon?”
“yaudah ayoo kita ke kantin”
Di kantin dian memulai pembicaraan nya
“Aku aneh sama diri aku sendiri bi..”
“loh ko gitu di?”
“sebenernya, aku suka sama anak baru itu, setelah kemaren dia
nganter aku pulang dan minta nomer handphone aku”
Seketika jantung ku berdebar sangat cepat, aku seperti melihat
dian, berdiri di depan ku, membawa satu buah pedang besar, dan seketika menebas
dadaku, aku bingung dalam perasaan ku sendiri, apa aku suka sama dian? Aku tak
menghiraukan nya, aku gak mau terjebak rasa sama dian
“..............”
“kok diem sih bi? Bian?”
“eh? Hm dian ya ya ya, hmm ikutin kata hati kamu aja di”
“makasih ya bi.. kalau gitu aku mau ke perpus dulu ya”
“oke di”
Keesokan hari nya seperti biasa kami ber6 nongkrong di kantin
favorit kami, dian atau Jonan, yang tengil, makan sambil terburu buru, membuat
semangkok bakso panas tumpah ke baju nya, Opik yang duduk di sebelah Dian segera
membersihkan baju dian, dan dalam waktu yang sama, spontan ada niatan aku untuk
membantu dian
Waktu ke waktu, semakin sering dian, dan aku ngobrol berdua, tanpa
personel the shadows yang lain, aku pun semakin dekat dengan dian, dan kejadian
yang tak ku ingin kan terjadi.. aku terjebak rasa terhadap dian..
Suatu ketika, aku mendapati Dian, tengah asyik ngobrol berdua
bersama Opik, sepatah kata yang ku dengar dari mulut Opik
“Di, aku gak peduli kalau gadis satu sekolah lebih mengejar
penghianat itu dibanding aku, tapi aku gak mau kamu sakit buat yang ke 2 kali
di, aku mau jaga kamu, maaf kalau dulu aku suka ngelarang larang kamu deket
sama afid, tapi itu semua karena aku tau kalau afid itu bukan orang baik, aku
peduli sama kamu di”
“makasih pik, karena kamu udah peduli sama aku, aku juga peduli
sama kamu pik, kamu orang yang paling penting di the shadows bagi aku, walaupun
memang semuanya penting”
“tanpa aku sadari aku sayang sama kamu di,aku udah terjebak sama
kamu di”
“aku juga sayang sama kamu pik”
Sakit memang, mendengar sepatah kalimat yang di lontar kan oleh
mereka berdua, tapi aku menghormati mereka, dalam hati, aku hanya bisa menjaga
dian, melihat dian, dari kejauhan, tidak secara langsung, dian lah yang membuat
hidupku lebih berarti, dian yang merubah segalanya
Dimanapun kau berada, aku tetap ada
_Bian Fahrezy
Tidak ada komentar:
Posting Komentar